Kebudayaan Betawi di Cilandak
Betawi berasal dari kata "Batavia," yaitu nama lama Jakarta pada masa Hindia Belanda. Budaya Betawi merupakan budaya sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Hindia Belanda , Batavia (kini Jakarta) merupakan ibu kota Hindia Belanda yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Betawi juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.
Sejarah Betawi diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.
Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.
Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.
Setelah VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, Belanda memerlukan banyak tenaga kerja untuk membuka lahan pertanian dan membangun roda perekonomian kota ini. Ketika itu VOC banyak membeli budak dari penguasa Bali, karena saat itu di Bali masih berlangsung praktik perbudakan. Itulah penyebab masih tersisanya kosa kata dan tata bahasa Bali dalam bahasa Betawi kini. Kemajuan perdagangan Batavia menarik berbagai suku bangsa dari penjuru Nusantara hingga Tiongkok, Arab dan India untuk bekerja di kota ini. Pengaruh suku bangsa pendatang asing tampak jelas dalam busana pengantin Betawi yang banyak dipengaruhi unsur Arab dan Tiongkok. Berbagai nama tempat di Jakarta juga menyisakan petunjuk sejarah mengenai datangnya berbagai suku bangsa ke Batavia; Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar dan Kampung Bugis. Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota.
Dari sejarah singkat yang bersumber dari Wikipedia Indonesia diatas Saya ingin menyampaikan sedikit pengetahuan tentang budaya betawi khususnya di daerah Cilandak, Jakarta Selatan yaitu tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan hingga duduk dibangku kuliah seperti sekarang ini. Selain orang betawi banyak juga pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Semua warga berhubungan baik dalam kehidupan bermasyarakat, melalui perbedaanlah yang menimbulkan rasa saling menghargai dan menghormati sesama warga cilandak khususnya dan Indonesia umumnya. Didaerah ini menggunakan bahasa formal yang digunakan di Jakarta yaitu Bahasa Indonesia, bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi. Dialek Betawi sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu dialek Betawi tengah dan dialek Betawi pinggir. Dialek Betawi tengah umumnya berbunyi "é" sedangkan dialek Betawi pinggir adalah "a". Dialek Betawi pusat atau tengah seringkali dianggap sebagai dialek Betawi sejati, karena berasal dari tempat bermulanya kota Jakarta, yakni daerah perkampungan Betawi di sekitar Jakarta Kota, Sawah Besar, Tugu, Cilincing, Kemayoran, Senen, Kramat, hingga batas paling selatan di Meester (Jatinegara). Dialek Betawi pinggiran mulai dari Jatinegara ke Selatan, Condet, Jagakarsa, Depok, Rawa Belong, Ciputat hingga ke pinggir selatan hingga Jawa Barat. Di cilandak bahasa Indonesia berdialek “a” jadi dapat disimpulkan sebagai betawi pinggiran.
Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Mayoritas warga cilandak menganut agama Islam yang berpedoman pada Al – Qur’an dan Hadits. Kebanyakan warga betawi di Cilandak diantaranya adalah para orang tua mengajarkan kepada anaknya untuk ibadah kepada tuhan semesta alam, Allah SWT. Inti dari pengetahuan agama adalah agar menjadi hamba yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bertberbakti kepada orang tua dan tidak melakukan tindakan non-agamis.
Profesi setiap orang berbeda – beda, yang terpenting adalah mencari nafkah dengan cara yang halal. Sebelum banyak bangunan yang diberdiri kokoh dan warga pendatang, lingkungan di Cilandak masih alami maksudnya masih ada sawah, tanah lapang atau yang sering orang betawi bilang “kebon” yang berisi banyak pohon dan buah tumbuh di dalamnya. Lalu sekarang jarang dilihat kebon disekitar cilandak karena sudah dibangun rumah – rumah untuk disewakan atau dijual kepada warga pendatang yang mengadu nasib di Jakarta. Contohnya bapak saya, bukan dari warga betawi dia adalah masyarakat pulau Sumatera yang merantau ke Jakarta. Kemudian memiliki jodoh di Jakarta yaitu dengan ibu saya orang betawi tulen cilandak atau warga asli Cilandak.
Bicara tentang jodoh, pernikahan merupakan salah satu perjalanan manusia yang dianggap sakral bagi masyarakat Betawi. Saking sakralnya, maka ada beberapa prosesi yang harus dilalui oleh kedua mempelai menjelang pernikahannya dan salah satunya adalah Palang Pintu. Upacara pernikahan diawali dengan arak-arakkan calon pengantin pria menuju ke rumah calon istrinya. Dalam arak-arakan itu, selain iringan rebana ketimpring juga diikuti barisan sejumlah kerabat yang membawa sejumlah seserahan mulai dari roti buaya yang melambangkan kesetiaan abadi, sayur-mayur, uang, jajanan khas Betawi, dan pakaian. Selain itu, perlengkapan kamar pengantin yang berat seperti tempat tidur serta lemari juga dibawa dalam prosesi arak - arakkan.Tradisi Palang Pintu ini merupakan pelengkap saat pengantin pria yang disebut "tuan raja mude" hendak memasuki rumah pengantin wanita atau "tuan putri". Lalu saat hendak dating dan ingin masuk ke kediaman pengantin putri, pihak pengantin wanita akan menghadang.
Awalnya, terjadi dialog yang sopan. Masing-masing saling bertukar salam, saling mendoakan. Sampai akhirnya pelan-pelan situasi memanas lantaran pihak pengantin perempun ingin menguji kesaktian dan juga kepandaian pihak pengantin laki-laki dalam berilmu silat dan mengaji. Baku hantam pun terjadi. Sudah pasti, akhirnya pihak lelakilah yang menang. Usai memenangi pertarungan, pengantin perempuan pun biasanya meminta pihak lelaki untuk memamerkan kebolehannya dalam membaca Al - Quran. Dan sudah pasti lagi, ujian ini pun mampu dilewatinya. Dan akhirnya pengantin pria di bolehkan untuk masuk untuk melaksanakan pesta pernikahannya.
Kebuayaan seni palang pintu identik dengan ilmu silatnya, banyak aliran pencak silat di Indonesia tapi disini saya tidak menyebutkan aliran silat di Indonesia satu per sarsatu dan yang saya ingin sebutkan hanya aliran Silat Betawi khususnya yang masih aktif di lingkungan cilandak. Silat betawi ada beberapa yang saya ketahui diantaranya adalah aliran sabeni, seliwa, beksi, cingkrik, troktok, dan lainnya. Kemudian di Cilandak tempat saya tinggal ada sebuah perguruan silat betawi yang bernama seliwa cahaya. Senjata khas perguruan ini adalah golok dan trisula.
Dalam pencak silat ada 4 aspek utama yaitu aspek mental dan spiritual, seni budaya, bela diri, dan olahraga. Banyak istilah dalam pencak silat seperti kuda – kuda, kembangan atau gerakan tangan dan tubuh, jurus, sapuan dan guntingan, langkah, kuncian dan banyak lainnya.
Demikianlah kebudayaan betawi di cilandak yang dapat saya sampaikan, bahwa sesungguhnya setiap warga betawi memiliki karakter yang unik, baik, taat beribadah walaupun gaya ngomongnya terkadang agak nyablak alias ceplas – ceplos tetapi tetap menghargai orang yang lebih tua biasanya memanggil “ Bang.. / Mpok..”, dan kalau memanggil paman atau tante biasanya “ ncang.. / ncing ..”. Dampak positif dari kebudayaan betawi adalah Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar