Senin, 03 Juni 2013

Imbalan dan Hukuman dalam Organisasi


A.    Definisi Imbalan
         Berdasarkan pendapat para ahli masalah Sumber Daya Manusia, telah dikemukakan pengertian tentang imbalan/kompensasi, sebagai berikut :
       Menurut Ivancevich (1998) Compensation is the Human Recources Manajement function that deals with every type of reward individuals receive in exchange for performing organisatio tasks. Kompensasi adalah fungsi manajemen sumber daya manusia yang berkaitan dengan semua bentuk penghargaan yang dijanjikan akan diterima karyawan sebagai ombalan dari pelaksanaan tugas dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan.
           Dari pengertian diatas dapat diketahui ciri-ciri imbalan atau kompensasi, yaitu :
1.      Kompensasi merujuk kepada semua bentuk imbalan keuangan.
2.      kompensasi diperoleh dari pelayanan yang nyata dan manfaat yang diterima keryawan sebagai bagian 
      dari suatu hubungan pekerjaan.
3.      Kompensasi merupakan penghargaan financial yang diberikan kepada karyawan.

B.     Sistem Organisasi Imbalan
         Sejumlah perubahan dari bagaimana prestasi dievaluasi telah terjadi dan imbalan diberikan. Permintaan diajukan untuk menghilangkan sistem insentif,[1] mengkonversikan seluruh sistem   imbalan ke pendekatan kelompok, dan mengatur seberapa besar eksekutif memperoleh prosentase yang secara universal merupakan cara imbalan yang tepat. Meskipun masing-masing saran mempunyai bebrapa keahlian, tetapi bebrapa rancangan radikal tidak mungkin mempengaruhi mayoritas dari pembuat kebijakan. Sebagai  ganti dari pendekatan radikal dan menghilangkan prasangka, pendekatan progresif lebih dimungkinkan untuk menarik perhatian. Sistem pembayaran yang berdasarkan kompetensi dan kontribusi dilakukan, insentif atas dasar keloompok dan evaluasi serta imbalan berdasarkan penghargaan atas peningkatan hasil lebih dipertimbangkan dan merupakan sistem yang dapat diimplementasikan. Suatu perusahaan Amerika yang telah dalam transaksi global, pembayaran dan imbalan akan menjadi lebih sangat tergantung pada unit secara total dan hasil perusahaan keseluruhan.[2]

         Proses Imbalan

            Daripada menghilangkan sistem imbalan individu dan menerima sistem imbalan kelompok, lebih baik mempelajari berbagai perspektif imbalan yang menggambarkan sisi positif dan negatif.

C.     Imbalan dan Komitemen Organisasi
Terdapat sedikit hasil penelitian yang menghubungakan antara imbalan dan komitmen organisasi. Komitemn terhadap organisasi melibatkan tiga sikap: (1) Identifikasi dengan tujugan organisasi, (2) Perasaan keterlibatan dalam tugas-tugas organisasi, dan (3) Perasaan loyalitas terhadap organisasi. Hasil riset menunjukkan bahwa tidak adanya komitmen bias mengurangi efektifitas organisasi. Orang yang sepakat kecil kemungkinan berhenti dan menerima pekerjaan lain. Jadi, biaya akibat keluar masuk karyawan yang tinggi tidak terjadi. Tetapi, karyawan yang memegang janji sangat terampil tidak memerlukan pengawasan yang ketat.

D.    Dampak Pemberian Imbalan
            Selanjutnya Hasibuan (1994), merinci tujuan pemberian imbalan atau Kompensasi adalah sebagai berikut :
1.      Sebagai ikatan kerja sama
Dengan pemberian imbalan atau kompensasi maka akan tercipta suatu ikatan kerja sama formal antara majikan dengan karyawan, disatu pihak karyawan mempunyai kewajiban untuk mengerjakan dengan baik semua tugas yang dibebankan perusahaan kepadanya, dipihak lain perusahaan mempunyai kewajiban membayar imbalan atau kompensasi sesuai dengan tugas yang dibebankan.

2.      Memberikan kepuasan kerja
Dengan pemberian imbalan atau kompensasi diharapkan karyawan dapatmemenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan sosial serta kebutuhan lainnya, sehingga karyawan memperoleh kepuasan kerja.

3.      Rekruitmen yang efektif 
Apabila kebijaksanaan imbalan atau kompensasi yang akan diterapkan dipandang cukup besar, tentunya pengadaan karyawan yang qualified akan lebih mudah.

4.      Alat untuk memotivasi
Imbalan atau kompensasi akan sangat mempengaruhi motivasi seseorangdalam bekerja. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk dapat memenuhi kebutuhannya, individu membutuhkan uang yang diperolehnya sebagai imbalan dari tempat ia bekerja, dan hal ini juga akan mempengaruhi semangatnya dalam bekerja.

5.      Stabilitas Karyawan 
Imbalan yang cukup juga berpengaruh terhadap stabilitas karyawan. Keluar masuknya karyawan dapat ditekan bahkan bisa dikatakan tidak ada apabila imbalan yang diberikan dirasa cukup adil sehingga karyawan merasa nyaman dalam bekerja.

6.  Disiplin
Disiplin merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan, karenaakan berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

7.      Pemerintah Kebijakan imbalan yang ditetapkan perusahaan harus berpedoman kepada peraturan perundang-undangan mengenai tarif upah yang telah ditetapkan pemerintah, maupun kebijakan-kebijakan lainnya yang disesuaikan dengan keadaan perekonomian saat itu.

E.     Definisi Hukuman
            Hukuman adalah peristiwa penentangan atau menghilangkan peristiwa positif diikuti tanggapan untuk menuruknkan frekuensi respon. Terdapat hubungan atau kesatuan antara respon yang didefinisikan dan konsekuensi tindakan yang menentang atau stimulus (seperti: pengurangan pembayaran bagi yang absen, mendapat memo menginformasikan prestasi pekerja yang jelek). [3]

Hukuman dan Perilaku
             Penjelasan teori sebelumnya tentang hukuman diteruskan oleh Edward Thorndike[4], ia menjelaskan bahwa hukuman mempunyai pengaruh pada perilaku dengan memperlemah antara stimulus dan respon. Menurut teori ini, kalau seorang anak ketangkap oleh karena mencuri kue dari stoples dan segera dihukum, maka kejadian berikutnya tidak akan terpengaruh oleh peristiwa stoples atau kue didalamnya. Stoples dan kue akan kehilangan kekuatan untuk mengontrol perilaku meraih toples. Kemudian, Thorndike memutuskan bahwa hukuman tidak mempunyai akibat memperlemah perilaku. Ia mengatakan kemana pun hukuman dimaksudkan memperlemah respons, dan merupakan akibat tidak langsung. Hukuman bias atau mungkin tidak bisa memperlemah respons, tetapi dengan jelas tidak bisa menjadi kaca dari tindakan memberikan imbalan. Contohnya, kalau respon karyawan dihargai, maka tampaknya pengulangan dari respons juga dihargai, tetapi kalau suatu respon karyawan diberi hukuman, maka tidak begitu jelas bagi orang yang bersangkutan mana dari respons lainnya yang akan dihargai. Akibatnya menurut Thorndike, hukuman merupakan suatu contoh pekerjaan dalam mengatakan pada seseorang apa yang sebaiknya tidak dilakukan tetapi tidak ada informasi yang bisa mengatakan pada seseorang mana alternatif perilaku tertentu yang sebaiknya diikuti.

Pendapat Menentang Penggunaan Hukuman

        Alasan lain diluar moral telah diajukan untuk menentang penggunaan hukuman. Pertama, tujuan hukuman diasumsikan untuk mengurangi terjadinya perilaku tertentu yang menjadi sebab dihukum. Tetapi kalau cukup keras dan diterapkan melebihi suatu rentang waktu tertentu, hal ini bisa juga menekan tombulnya perilaku yang diinginkan. Sebagai contoh, intensitas hukuman mungkin akan menjadikan seorang  pasif, menolak untuk mengeambil risiko atau bicara dan malu untuk bergabunga dalam kelompok.

            Kedua, beberapa mengasumsikan bahawa penggunaan hukuman akan menghasilkan akibat lain yang tidak diinginkan (seperti: kekhawatiran, agresivitas). Juga, mereka yang dihukum mungkin mencoba lari atau menghindar (seperti membolos, keluar) atau menunjukkan sikap bermushan (seperti sabotase) terhadap manajemen. Riset yang mendukung atas akibat lain daro pemberian hukuman atas emosi yang tidak diinginkan kurang begitu kuat. Suatu tinjauan kepustakaan menunjukkan bahwa hanya satu dari sejumlah studi mendukung asumsi ini. Tinjauan menunjukkan bahwa peningkatan perilaku terjadi sebagai akibat hukuman, dibanding efek sisi emosi yang tidak diinginkan. Barangkali sisi negative mungkin bisa terjadi bila manajer menghukum secara tidak adil dan tidak ada pembedaan.

            Ketiga, akibat hukuman yang hanya bersifat sementara; sekali ancaman hhukuman hilang, respons yang tidak diinginkan akan kembali muncul. Jadi, ancaman hukuman harus selalu ada atau digunakan. Hukuman bisa memberikan hasilnya, hal ini dapat menghasilkan penguat yang positif bagi manajer untuk melanjutkan penggunaannya.

            Keempat, melalui pengamatan, hukuman dapat menghasilkan respons negative dari rekan kerjadari orang yang dihukum. Contohnya, individu mengamat seorang manajer menghukum seorang teman mungkin akan meniru perilaku ini diantara mereka sendiri atau terhadap manajemen. Akibatnya manajer mengajar pada karyawan sikap agresif, perilaku yang tidak manusiawi, yang sesungguhnya ingin dihilangkan dengan pemberian hukuman.[5]




[1] Thomas B. Wilson, “Effects of Prior Expectatins on Permormance Rating: A Longitudinal Study,” Acaemy of Manajemen Journal, June 1987, pp. 354-68.
[2] Jude T. Rich, “Meeting the Global Challenge: A Measurement and Reward Program for the future,”Compensation and Benefit Review, July-Agustus 1992, pp.26-29.
[3] Gibson Ivancevich Donnelly, “Perilaku Dalam Organisasi”, (Jakarta: Binarupa,1996), Hal. 322
[4] Edward L. Thorndike, Educational psychology, Vol. 2H: The psychology of Learning (New York: Colombia University Teachers College Bureau of Publications, 1913).
[5] Gibson Ivancevich Donnelly, “Perilaku Dalam Organisasi”, (Jakarta: Binarupa,1996), Hal.323-324

Rabu, 01 Mei 2013

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi


A.    Definisi

Pengambilan Keputusan (Decision Making, Besluitneming) merupakan suatu proses dan berlangsung dalam suatu system, walaupun merupakan suatu keputusan atau desisi pribadi sekali pun yang menyangkut suatu masalah pribadi pula.
Hal tersebut perlu kita sadari agar supaya kita dapat berhasil di dalam daya upaya mengembangkan kemampuan kita untuk mengambil desisi mengenai problema – problema yang menghendaki suatu keputusan dari kita. Makin mampu kita mengenali masalah – masalah yang selalu akan kita jumpai di dalam perjalanan menuju ke kemajuan dalam hidup, makin mampu kita mengatasi atau memecahkan masalah – maslah tersebut, maka akan besar serta cepatlah sukses yang akan dicapai.
System di mana proses pengambilan desisi itu berlangsung terdiri atas berbagai unsur (elements) atau bagian, dan masing – masing merupakan suatu factor yang ikut menentukan segala apa yang terjadi atau akan terjadi.
Unsur yang utama dan mungkin yang terpenting didalam proses pengambilan keputusan adalah MASALAH atau PROBLEMA yang harus dihadapi dan menghendaki adanya desisi dari kita.[1]

B.     Kerangka Pengambilan Keputusan

Setiap keputusan atau desisi yang kita ambil berada dalam suatu kerangka pikiran (framework of thought, mental environment) dan kerangka daya upaya (framework of action, operasional environment).
Bagaimana struktur dan system daripada kerangka pengambilan keputusan tersebut tergantung dari :
1)      Posisi orang yang berwenang, berwajib, dan atau bertanggung jawab untuk mengambil desisi,
2)      Problema atau masalah yang dihadapi harus ditangani atau dipecahkan,
3)      Situasi di mana si pengambil desisi dan problema itu berada,
4)      Kondisi daripada si pengambil desisi, kekuatan dan kemampuannya untuk menghadapi problema tersebut,
5)      Tujuan yang harus dicapai dengan pengambilan keputusan tersebut.

Posisi
            Setiap orang, lebih – lebih di dalam masyarakat yang sudah maju, berada di dalam posisi atau kedudukan yang berubah – ubah, satu sama lain tergantung dari apa  atau siapa  yang dia hadapi pada waktu itu.
            Jadi, posisi kita selalu ditentukan oleh apa  atau siapa yang kita hadapi.
Apa siapa itu merupakan bagian daripada lingkungan di mana kita berada pada suatu ketika. Oleh karena itu, maka dapat pula dikatakan, bahwa posisi atau kedudukan seseorang itu selalu ditentukan oleh lingkungannya. Hal tersebut perlu disadari sepenuhnya oleh setiap orang yang menghadapi masalah pengambilan keputusan, jangan sampai salah tanggap dan salah berpikir. Oleh sebab orang yang terbiasa berkuasa dengan pangkat dan jabatan yang tertentu mempunyai kecenderungan untuk membawa kebiasaaan posisional itu kemana – mana, sehingga dapat menjadi tertawaan orang atau pertanyaan pihak -  pihak yang tidak mau menerimanya.
Sebaliknya, ada pula orang terbiasa menjadi bawahan yang tertekan, pada waktu berada dalam posisi untuk mengambil kepustusan tidak berani berbuat apa – apa.
Posisi seseorang dapat berpindah – pindah dari individu, suami, ayah, saudara, dan sebagainya, di dalam lingkungan keluarga.
Didalam lingkungan organisasi pemerintahan, posisi seseorang dapat berpindah – pindah dari pemerintah, administrator, staffer, manajer, pegawai negeri atau pegawai Negara.
Di dalam lingkungan organisasi militer, seorang dapat berpindah – pindah posisi dari panglima, komandan, staffer, administrator, manajer, kepala, pemimpin, ke pegawai negeri militer.
Di dalam lingkungan perusahaan, posisi seseorang dapat berpindah dari pemegang saham, entrepreneur, direktur, administrator, staffer, manager, pemimpin, pegawai perusahaan.
Perubahan – perubahan posisi tersebut sangat membingungkan di dalam masyarkaat yang tradisional feudal, dan oleh karena itu, proses modernisasi selalu diikuti dengan gerak egalisasi social, artinya : orang tidak suka lagi digolong – golongkan menurut suatu hierarkhi social berdasarkan kasta, keturunan, pendidikan sekolah, dan sebagainya. Satu – satunya hierarkhi yang mai dipertahankan adalah hierarkhi organisasional, dan itu juga pun hanya selama jam dinas atau jam kerja. Di luar jam dinas dan kerja orang mau diperlakukan sebagai manusia biasa yang sederajat dengan sesame manusia yang lainnya yang mana pun, dan hal ini memang sesuai dengan ajaran agama – agama yang besar : Islam, Nasrani dan sebagainya.
Posisi seseorang menentukan alam pandangan dan berpikirnya, sikap, dan tingkah lakunya.
Di dalam kerangka pengambilan keputusan, seorang harus sadar akan posisinya, apakeh sebagai decision maker (pembuat keputusan), decision taker (pengambil/prenentu keputusan), ataukah staffer, dan selain itu, harus sadar akan tingkatan (level, niveau) posisinya : strategi, policy, peraturan, organisasional, operasionil, teknis.

Problema
            Masalah atau problema adalah apa yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan daripada apa yang diharapkan, direncanakan, atau dikehendaki.
            Problema tidak selalu didapat dikenali dengan segera. Ada yang memerlukan analisa, ada pula yang bahkan memerlukan research tersendiri.

Situasi
            Situasi berada didalam keadaan pada umumnya, baik yang relevan (ada hubungan dengan kita beserta permasalahan) maupun yang tidak relevan.
            Situasi adalah keseluruhan factor – factor dalam keadaan, yang sangat berkaitan satu sama yang lain, dan yang secara bersama – sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat.
            Factor – factor tersebut ada yang konstan (C), tidak berubah-ubah, namun sebagian besar terdiri atas faktor-faktor variable (V) yang tidak tetap keadaannya.
            Di antara variabel-variabel itu ada yang dapat diperhitungkan, bahkan dapat dikendalikan, namun ada pula yang sama sekali berada diluar kekuasaan manusia untuk mengaturnya (N), misalnya : curah hujan, banjir, gempa bumi.

Kondisi
            Kondisi adalah keseluruhan daripada faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan daya gerak , daya berbuat atau kemampuan kita.
            Sebagian terbesar daripada faktor-faktor tersebut merupakan sumber-sumber daya atau resources (R).
            Sumber – sumber daya itu, bahkan kondisi secara keseluruhan, haru dikendalikan melalui management yang setapat-tepatnya.
            Sebaliknya, sumber-sumber daya itu menentukan daya management kita, daya kita untuk merencanakan dan melakukan sesuatu serta mencapainya secara effektif.[2]

C.    Faktor – faktor Dalam Pengambilan Keputusan

Pada semua jenjang organisasi, semua orang harus terus mengambil keputusan dan memecahkan masalah. Faktor terpenting di dalam pengambilan keputusan adalah faktor manusia, baik sebagai Pemimpin, Staffer, Pelaksana, maupun Pemakai hasil (langganan, dan sebagainya).
            Masalahnya adalah, bahwa di dalam kehidupan masyarakat dan organisasi modern diperlukan orang-orang yang sudah sivil, artinya : yang sudah mampu menentukan sendiri apa yang harus diperbuat di dalam rangka kewajiban yang dia punyai.
            Dengan prakata lain, makin pelik masalah yang dihadapi, makin diperlukan manusia yang maju dan modern untuk menanganinya. Manusia yang demikian itu adalah hasil pendidikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman.[3]

  
Tabel 1.1
Teknik Pengambilan Keputusan Tradisional dan Modern

Jenis – Jenis Keputusan
Teknik Pengbilan Keputusan
Tradisional
Modern
Terprogam :
Keputusan rutin yang berulang.
Organisasi mengembangkan proses khusu untuk menanganinya.
1.      Kebiasaan
2.      Pekerjaan rutin tata-usaha: Prosedur operasi yang baku.
3.      Struktur organisasi: pengharapan bersama. Suatu sistem dari sub-sasaran.
1.      Riset operasi: Analisis matematika model.
2.      Pemerosotan data elektronik.
Tidak terprogram :
Keputusan kebijakan yang hanya sekali berlaku, tidak terstruktur, dan baru.
Ditangani denga proses umum pemecahan masalah.
1.      Penilaian, intuisi, dan kreativitas.
2.      Petunjuk praktis.
3.      Pemilihan dan pelatihan eksekutif.
Teknik pemecahan masalah heuristik yang diterpakan pada :
a.       Melatih orang yang mengambil keputusan.
b.      Membuat program komputer heuristik.

Sumber : Hebert A. simon. The New Science of Management Dicision, edisi yang diperbarui, Hal. 48. Hak cipta 1977. Dikutip dengan izin dari Prentice Hall, Inc. Englewood Cliff, N.J.
           



[1] S. Prajudi Atmosudirjo, Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan (Jakarta: Gahlia Indonesia, 1982), Hal. 14.
[2] S. Prajudi Atmosudirjo, Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan (Jakarta: Gahlia Indonesia, 1982), Hal. 60 – 62.
[3] S. Prajudi Atmosudirjo, Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan (Jakarta: Gahlia Indonesia, 1982), Hal. 28.

Komunikasi Dalam Organisasi


Pengertian Komunikasi

Untuk memahami pengertian manajemen komunikasi, terlebih dahulu dijelaskan pengertian komunikasi secara umum. Kata komunikasi berasal daro bahasa latin communication yang berarti ‘pemberitahuan’ atau ‘pertukaran pikiran’. Jadi, secara garis besar, dalam suatu proses komunikasi haruslah terdapat unsure – unsure kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antara komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan).
Adapun beberapa definisi komunikasi dari para pakar, sebagain berikut:
a.          Komukasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa (Laswell).
b.         Komunikasi adalah proses di mana seseorang individu atau komunikator mengoperkan stimulant biasa denga lambang-lambang bahasa (verbal maupun nonverbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain (Carl I. Hovland).
c.          Komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui symbol-simbol (Theodorson dan Thedorson).
d.         Komunikasi adalah seni menyampaikan informasi dan sikap seseorang kepada orang lain (Edwin Emeryl).
e.          Komunikasi adalah suatu proses interaksi yang mempunyai arti antara sesame manusia (Delton E, Mc Farland).
f.          Komuinikasi adalah proses social, dalam arti pelmparan/lambang yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan (William Albig).
g.          Komunikasi berarti suatu mekanisme suatu hubungan antarmanusia dilakukan dengan mengartikan symbol secara lisan dan membacanya melalui ruang dan menyimpan dalam waktu (Charles H. Cooley).
h.         Komunikasi merupakan proses pengalihan suatu maksud dari sumber kepada penerima, proses tersebut merupakan suatu seri aktivitas, rangkaian atau tahap-tahap yang memudahkan peralihan maksud tersebut (A. Winnet).
i.           Komunikasi merupakan interaksi antarpribadi yang menggunakan sistem symbol linguistik, seperti sistem symbol verbal (kata-kata) dan nonverbal. System ini dapat disosialisasikan secara langsing /tatap muka atau melaui media lain (tulisan, oral dan visual) (Karlfried Knapp).[1]

Komunikasi Organisasi

Komunikasi dalam organisasi khususnya mempunyai mempunyai hubungan dengan satu atau lebih dimensi-dimensi struktur organisasi (misalnya peranan, status, kompleksitas teknologi, pola-pola otoritas, dan sebagainya). Komunikasi dengan luar organisasi (external communication) adalah pertukaran “message” antara organisasi atau masuknya arus informasi dari luar (lingkungan ke dalam organisasi).
Setiap langkah dalam manajemen dan pengoprasian suatu organisasi sangat tergantung pada komunikasi. Misalnya peningkatan aktivitas, penyelesaian konflik, memperbaiki semangat pekerja dan meningkatkan produksi.
Beberapa aliran teori manajemen menghadap persoalan komunikasi yang berbeda-beda, tetap semuanya berfokus pada komunikasi sebagai masalah pokok organisasi karena:
a.          Komunikasi tampaknya memungkinkan anggota-anggota organisasi saling bertukar pengetahuan tentang tujuan-tujuan yang ingin dicapai organisasi.
b.         Komunikasi adalah wahana di mana suatu organisasi dapat mencapai lingkungnanya.
c.          Komunikasi merupakan saluran yang menghubungkan masukan dengan keluaran suatu organisasi.
Komunikasi menyediakan alat-alat untuk pengambilan keputusan, melaksanakan keputusan menerima umpan balik dan mengoreksi tujuan serta prosedur organisasi. “Apabila komunikasi berhenti maka aktivitas organisasi akan berhenti. Dengan demikian, tinggallah kegiatan-kegiatan individu yang tidak terorganisasi”. [2]

Manajemen Komunikasi

Manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi karena tanpa manajemen, semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit. Handoko (1997) menyebut ada 3 alasan utama yang diperlukan manajemen.
a.             Untuk mencapai tujuan. Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi dan pribadi,
b.            Untuk menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan saling bertentanga. Manajemen dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran, dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi, seperti pemilik karyawan, maupun kreditor, pelanggan, konsumen, supplier, serikat kerja, assosiasi perdagangan, masyarakat dan pemerintah.
c.             Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Suatu kerja organisasi dapat diukur dengan banyak cara yang berbeda. Salah satu cara yang umum adalah efisiensi dan efektivitas. Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar. Ini merupakan konsep matematika atau merupakan perhitungan rasio antara keluaran (output) dan masukan (input). Sedangakan efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, manajer efektif dapat memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metode (cara) yang tepat untuk mencapai tujuan.
Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa manajemen komunikasi adlah manajemen yang diterapkan dalam kegiatan komunikasi. Ini berarti manajemen akan berperan atau sebagai penggerak aktivitas komunikasi dalam usaha pencapaian tujuan komunikasi.
                Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut, maka disinilah asas-asas manaajemen dan komunikasi dipadukan dan disesuaikan di atas landasan tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal ini, maka para pelaku komunikasi setidaknya harus mengetahui seluk-beluk ilmu manajemen dan ilmu komunikasi. Apabila ada keinginan bersama untuk menyukseskan penyelanggaraan komunikasi secara efektif.[3]


[1] Tommy Suprapto, Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi (Yogyakarta: Media Pressindio, 2009) Hal. 5-6.
[2] Tommy Suprapto, Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi (Yogyakarta: Media Pressindio, 2009) Hal. 109-110.
[3] Tommy Suprapto, Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi (Yogyakarta: Media Pressindio, 2009) Bab XI

Selasa, 27 November 2012

Analisa terhadap CV. Intech Manufaktur


LATAR BELAKANG
            Organisasi adalah sistem hubungan yang terstruktur yang mengkoordinasikan usaha suatu kelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Suatu perusahaan atau badan usaha juga dapat dikatakan sebagai organisasi karena didalamnya terdapat suatu tujuan yang sama dari setiap individu yaitu demi mencapai keberhasilan dan kemajuan dari perusahaan yang didirikan. Berkaitan dengan kegiatan usaha ada beberapa bentuk organisasi diantaranya seperti PT, Firma, CV dan lain – lain.
Dari berbagai bentuk organisasi diatas, disini akan dianalisa pada CV. Intech Manufaktur yang bergerak di bidang industry sebagai pembuat part untuk industi otomotif, elektronik, makanan dan lain – lain. Sekarang ini perusahaan dibawah pimpinan Bapak Dindin Sahidin yang dibantu oleh beberapa staffnya, sehingga perusahaan ini telah mulai menghasilkan keberhasilannya dengan cara memasarkan produk part ke beberapa daerah di Indonesia, tentunya dengan pengharapan untuk bisa lebih dari yang diharapkan dan dapat mencapai cita-cita perusahaan. 
Visi dan Misi perusahaan ini adalah menjadikan INTECH sebagai perusahaan pembuat part dengan kepresisian tinggi dan memberikan solusi bagi dunia industry dalam pengadaan part – part yang memerlukan kepresisian tinggi.

PERUMUSAN MASALAH
Apa permasalahan sehingga CV. Intech Manufaktur membuat part untuk setiap industry?
karena untuk memberi kemudahan bagi industry otomotif, elektronik, makanan dan lain sebagainya dalam memproduksi barang yang akan dipasarkan pada konsumen. Sehingga dibutuhkan suatu industry penghasil part yang berguna bagi industry lain agar kegiatan produksinya berjalan dengan baik.



LANDASAN TEORI
I.                   Struktur Organisasi Perusahaan

I.1 Pengertian Struktur
            Struktur adalah hubungan antara berbagai kegiatan yang berbeda, yang dilaksanakan di dalam suatu organisasi.
I.2 Pengertian Organisasi dan CV
            Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan dalam bukunya “ Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah “ Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur, dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan alat dan wadah saja.
CV adalah suatu bentuk badan usaha bisnis yang didirikan dan dimiliki oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama dengan tingkat keterlibatan yang berbeda-beda di antara anggotanya. Satu pihak dalam CV mengelola usaha secara aktif yang melibatkan harta pribadi dan pihak lainnya hanya menyertakan modal saja tanpa harus melibatkan harta pribadi ketika krisis finansial. Yang aktif mengurus perusahaan cv disebut sekutu aktif, dan yang hanya menyetor modal disebut sekutu pasif.

I.3 Pengertian Struktur Organisasi
            Menurut The Liang Gie, Struktur Organsisasi adalah kerangka yang mewujudkan pola tetap dari hubungan-hubungan diantara bidang-bidang kerja, maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan dan peranan masing-masing dalam kebulatan kerja sama.
            Suatu struktur organisasi akan memberikan informasi tentang :
1.      Tipe Organisasi, artinya struktur organisasi akan memberikan informasi tentang tipe organisasi yang dipergunakan perusahaan, apa line organization, line an  staff organization, atau  functional organization.
2.      Pendepartemenan organisasi, artinya struktur organisasi akan memberikan informasi mengenai dasar pendepartmenan ( bagian ), apa berdasarkan   fungsi-fungsi manajemen, wilayah, produksi, shif dan lain sebagainya.
3.      Kedudukan, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai apa seseorang termasuk kelompok manajerial atau karyawan operasional.
4.      Jenis wewenang, artinya struktur organsasi memberikan informasi tentang wewenang yang dimiliki seseorang, apa line authority, staff authority, atau functional authority.
5.      Rentang kendali, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai jumlah karyawan dalam setiap departemen ( bagian ).
6.      Manajer dan bawahan, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai garis perintah dan tanggung jawab, siapa atasan dan siapa bawahan.
7.      Tingkatan manajer, artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang top manager, middle manager, dan lower manager.
8.      Bidang pekerjaan, artinya setiap kotak dalam struktur organisasi memberikan informasi mengenai tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan serta tanggung jawab yang dilakukan pada bagian tersebut.
9.      Tingkat manajemen, artinya sebuah bagan tidak hanya menunjukkan manajer dan bawahan secara perorangan, tetapi juga hirarki manajemen secara keseluruhan. Semua karyawan yang melapor kepada orang yang sama berada pada tingkat manajemen yang sama, tidak jadi soal di mana mereka ditempatkan dalam organisasi.
10.  Pimpinan organisasi, artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang, apa pimpinan tunggal atau pimpinan kolektif, atau presidium.


                                                                        Struktur Organisasi
CV INTECH MANUFAKTUR BANDUNG

                   Sumber : CV INTECH MANUFAKTUR

Struktur organisasi yang ada di CV. Intech Manufaktur menggunakan struktur organisasi lini. Organisasi lini adalah pimpinan mempunyai perintah atau suatu bentuk organsiasi yang di dalamnya terdapat garis wewenang yang menghubungkan langsung secara vertikal antara atasan dengan bawahan.

            Berdasarkan struktur organisasi diatas, maka staffing dan pembagian tugasnya adalah sebagai berikut.
1.      Direktur bertugas mengatur berjalannya sebuah perusahaan, berfungsi sebagai motivator, fasilitator, dinamisator, dan stabilitator dalam perusahaan.
2.      Sekretaris bertugas untuk membantu dalam melaksanakan tugas – tugas baik untuk pimpinan maupun perusahaan.
3.      Kepala Bagian Perusahaan bertugas mengatur/menangani masalah keuangan perusahaan, pembayaran upah/gaji karyawan dan lain sebagainya.
4.      Kepala Bagian Pemasaran (marketing) bertugas menangani penjualan atau pemasaran produk, menilai layak tidaknya suatu produk untuk dipasarkan, mencatat data penjualan, melakukan pengembangan pemasaran dan lain sebagainya.
5.      Kepala Administrasi dan personalia bertugas mengurusi masalah kepegawaian seperti absensi karyawan, sebagai jembatan penghubung antara bawahan dan pimpinan
6.      Production Planning Control (PPC) bertugas sebagai perencana dan mengendalikan sesuai dengan pesanan.
7.      Kepala Produksi bertugas menangani masalah – masalah administrasi produksi, pembelian mesin produksi, perbaikan dan lain sebagainya.
8.      Head Of Quality bertugas sebagai pemeriksa kualitas suatu produk untuk dipasarkan.
9.      Purchasing bertugas sebagai orang yang memesan atau membeli bahan yang akan dijadikan produk.
10.  Kepala Gudang bertugas sebagai pengawas keluar masuk barang setengah jadi ataupun barang jadi
11.  Sales bertugas dalam mempromosikan produk kepada konsumen.

Nama : Muhamad Bagus Agus
NPM  : 14111643
Kelas  : 2ka18