Kamis, 07 November 2013

Sains, TI dan Ujung Tombak Kemanusiaan

KOMPAS.com - Berbagai permasalahan kemanusiaan, misalnya penyakit menular, big data, krisis energi, sudah menjadi momok yang ‘menggerogoti’ planet bumi kita ini.

Riset mendalam pada bidang sains, atau basic science, sudah jelas, adalah salah satu solusi yang diharapkan dapat memberi terobosan terhadap masalah-masalah tersebut.

Namun, bagaimanakah manajerial yang baik untuk mendapatkan terobosan tersebut? Bagaimana peran Teknik Informatika (TI) di dalamnya?

Pemetaan Bidang Unggulan

Jika kita membuka agenda riset nasional (ARN) tahun 2010-2014, yang merupakan keputusan menteri riset dan teknologi, maka memang ada beberapa topik besar yang menjadi pemandu bagi peneliti, baik di instansi pemerintah atau swasta.

Topik-topik itu adalah ketahanan pangan, energi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi kesehatan dan obat, material maju, dan riset unggulan sosial kemanusiaan.

Mengapa riset sosial kemanusiaan menjadi bagian dari ARN? Sebabnya adalah riset ini digunakan untuk mengkaji dampak sosial dari industri pangan, obat, dan energi. Kesemua industri tersebut dilandasi oleh sains atau basic science.

Kajian ARN menunjukkan, bahwa riset tidaklah ‘an sich’ merupakan ilmu eksak atau sains saja, namun selalu ada aspek kemanusiaan yang harus dijadikan pertimbangan. Di sini menjadi jelas, bahwa pada akhirnya, sains harus digunakan untuk mengabdikan dirinya kepada kemanusiaan.

Akan lebih jelas, bahwa tidak hanya output-nya saja yang memiliki dampak terhadap kemanusiaan, namun juga, secara internal, kepada peneliti, ia memiliki dampak yang manusia juga.

TI sangat berperan sentral di sini, sebab data yang akan dikelola akan semakin banyak, sehingga memerlukan kemampuan manajerial yang sangat baik, untuk pengembangan sistim informasi yang paripurna.

Riset dan Manajemen Proyek

Riset memerlukan manajemen proyek yang sempurna. Delegasi otoritas adalah konsep kunci dalam mendesentralisasi beban kerja kepada setiap anggota grup. Tanpa delegasi otoritas, pekerjaan hanya akan terkonsentrasi pada orang tertentu, dan anggota yang lain tidak melakukan apa-apa.

Kesejahteraan setiap member, baik mahasiswa (proyek di perguruan tinggi) atau pegawai (proyek swasta atau instansi pemerintah), harus diperhatikan dengan sangat baik. Menumbuhkan sense of belonging di dalam internal grup, haruslah dilakukan secara berkala.

Penanaman sense of belonging sangatlah penting, sebab proyek tersebut bukanlah milik atasan, pimpro atau bos saja, namun milik semua anggota grup. Hal tersebut dapat dilakukan dengan sesi retreat, dalam rangka memperkuat konsolidasi internal grup riset.

Dalam sesi retreat, yang lebih banyak konten informal, dapat lebih dikaji permasalahan apa yang dihadapi oleh grup secara lebih komprehensif, baik problem internal ataupun eksternal.

Jadi, sains sama sekali tidak bisa dikembangkan secara ‘science for science’, namun memerlukan kordinasi manajerial juga, dalam rangka menghasilkan output yang sesuai dengan SOP yang telah ada. Di sini, hubungan antar manusia memainkan peranan penting, sebab kebersamaan yang solid merupakan kunci dalam menyelesaikan proyek riset tersebut.

Hanya manajemen proyek yang paripurna, yang dapat memberikan kontribusi dalam menyelesaikan berbagai macam masalah kemanusiaan.

Dalam beberapa kasus di sains informatika atau teknologi informasi, pemberian kredit atau kum justru tidak hanya kepada manusia, namun juga bisa kepada komputer. Hal ini terjadi, ketika Doron Zeilberger, ahli matematika dari USA, membubuhkan nama ‘Shalosh B.Ekhad’, dalam daftar autor, pada publikasi ilmiah milikinya.

Siapakah Shalosh? Ternyata, dia bukan manusia, namun sebuah komputer. Hal ini menunjukkan, bahwa tidak hanya manusia yang mendapat kredit dalam pengembangan sains, namun komputer juga harus mendapat recognition. Dalam konteks manajemen proyek, hal ini adalah pengakuan bahwa ‘mesin’ sekalipun harus mendapat recognition yang pantas.

Manusia dan Sains dalam naungan IT

Sains untuk manusia, atau manusia untuk sains? Di negara maju, sains tidak harus mengabdi pada kemanusiaan, sebab negara sudah memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan nafkah dan pekerjaan.

Oleh sebab itu, ilmuwan dapat saja fokus pada episteme ‘science for science’. Hanya saja, kita yang merupakan negara berkembang, masih memerlukan kontribusi pemikiran akan berbagai masalah multi-dimensi yang dihadapi bangsa kita.

Jika kita meminta negara menyelesaikan permasalahan bangsa, tanpa kita melakukan apa-apa, adalah suatu pemikiran atau tindakan yang sangat egois.

Indonesia adalah negara yang berproses menjadi welfare state, dan masih jauh untuk menjadiwelfare state itu sendiri. Akan sangat baik, jika setiap warga negara, siapapun kita, dan apapun profesi kita, paling tidak ikut urun rembuk memikirkan permasalahan bangsa yang riil, baik itu masalah kesehatan, pangan, lingkungan, keamanan, transportasi, dan lainnya.

Di sini, pemetaan masalah kemanusian, maupun pengembangan alur penyelesaiannya, hanya dapat dilakukan dengan penguasaan TI yang baik. Penelitian TI telah menjadi semakin terjangkau, terutama semenjak ditemukannya teknologi cloud computing, di mana utilisasi sumber daya komputasi dapat di-outsourcing kepada pihak ketiga, sehingga menghilangkan komponen biaya pemeliharaan supercomputer.

Pemanfaatan TI seyogyanya menjadikan manusia semakin bijak, sebab dengan paradigma open source, tidak hanya satu orang saja yang seyogyanya mendapat kredit dalam pengerjaan suatu proyek, namun komunitas tersebut secara keseluruhan harus mendapat recognition.


Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2013/10/24/1715219/Sains.TI.dan.Ujung.Tombak.Kemanusiaan

Analisis : 

Intinya perlu dibuat sistem informasi riset yg paripurna dan saling melengkapi antar disiplin ilmu. Butuh sistem IT yg wokeh. Moga2 betul. Kalo masih bingung samperin aja ke kantor penulis

Aplikasi Mata-mata TNI Jangan Disalahgunakan

BALI, KOMPAS.com - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) telah membeli peralatan intelijen seharga 5,6 juta dollar AS dari Gamma TSE. Sejumlah kalangan mengkhawatirkan peralatan dan program tersebut bakal disalahgunakan karena tak ada batasan instansi pemerintah mana saja yang berhak memakainya.

Kemenhan tidak menyebut secara eksplisit peralatan apa yang dibeli. Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhan, Brigadir Jenderal TNI Sisriadi mengatakan, peralatan intelijen ini akan digunakan oleh Badan Intelijen Strategis (Bais) Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sisriadi mengklaim, bahwa program yang dibelinya bukanlah alat sadap, melainkan alat anti-sadap. Pengadaan peralatan intelijen itu digunakan agar proses pertukaran informasi antara Bais TNI dan kantor-kantor Atase Pertahanan RI di seluruh dunia dapat berlangsung dengan aman.

Gamma TSE berasal dari Inggris. Salah satu anak perusahaannya, yakni Gamma International, merupakan perusahaan yang mengembangkan sistem pemantau jarak jauh FinFisher atau yang juga dikenal sebagai FinSpy. Produk ini dipasarkan dan dijual eksklusif untuk penegak hukum dan badan intelijen suatu negara.

Seperti dilaporkan wartawan Kompas.com Aditya Panji, pakar hukum siber Megi Margiyono dari Indonesia Online Advocacy, mengatakan, FinFisher adalah program mata-mata (spyware) yang telah memenuhi standar militer. 

Ia berpendapat, pemerintah harus memberi batasan pemakaian yang jelas atas peralatan dan program intelijen yang dibeli.

“Ini seperti membeli senjata, tapi tidak jelas mau digunakan untuk apa. Harus ada standar operating procedure soal siapa saja yang boleh menggunakan itu? Lalu siapa saja targetnya?” tegas Megi, Rabu (23/10/2013), 

Ia berkisah, di negara Uni Emirat Arab, program FinFisher disalahgunakan oleh pemerintahnya sendiri. Alih-alih menjaga keamanan, justru FinFisher digunakan untuk memata-matai aktivis, jurnalis, dan blogger yang kritis terhadap pemerintah.

Menurutnya, perlu ada perwakilan dari DPR, pakar hukum siber, dan aktivis hak asasi manusia, yang melakukan audit terhadap teknologi intelijen di Indonesia. “Jika tak ada audit, potensi penyalahgunaannya besar. Di Malaysia, program ini digunakan untuk memantau Pemilu,” jelas Megi.

Sebelumnya, lembaga riset The Citizen Lab di Universitas Toronto, Kanada, menemukan keberadaanFinFisher di Indonesia pada Maret 2013. Program itu terdeteksi pada alamat protokol internet (IP Address) pelanggan Telkom, Biznet, dan Matrixnet Global.

Pihak Telkom dan Biznet membantah adanya aksi mata-mata di jaringannya.

“Meskipun Telkom dan Biznet membantah, tapi jelas saat kita melakukan testing, ternyata FinFisher ada di sana. Pertanyaan tentang apakah FinFisher masih aktif atau digunakan untuk apa, silakan tanyakan kepada penyedia jasa internet yang bersangkutan,” kata Research Manager The Citizen Lab, Masashi Crete-Nishitata.

Saat menghadiri Internet Governance Forum 2013 di Nusa Dua, Bali, Masashi mengatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan dokumen latar belakang tentang FinFisher di Indonesia.

The Citizen Lab mencatat, program FinFisher terdeteksi di 25 negara. Selain Indonesia, ia juga ada di Australia, Bahrain, Banglades, Brunei, Kanada, Ceko, Estonia, Ethiopia, Jerman, India, Jepang, Latvia, Malaysia, Meksiko, Mongolia, Belanda, Qatar, Serbia, Singapura, Turkmenistan, Uni Emirat Arab, Inggris, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Ralat:
Berita ini telah diralat. Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI tidak menyebutkan secara eksplisit peralatan intelijen apa yang dibeli. Berita sebelumnya juga menyebutkan bahwa Kemenhan membeli peralatan intelijen dari Gamma International, namun dalam siaran pers, Kemenhan menyebut peralatan itu dibeli dari Gamma TSE Ltd. Redaksi meminta maaf atas kesalahan laporan ini.

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2013/10/24/1051328/Aplikasi.Mata-mata.TNI.Jangan.Disalahgunakan.

Analisis :

Mahal bgt tuh harga programnya. Apa yakin tidak ada mark up harga gila gilaan nih proyekny. Coba TNI kalo bs transparansi jg donk, buka di website rinciannya 5.6juta dollar itu apa aja. Biar public yg menilai apa bner tidak terjadi "proyek bagi bagi hasil"

Yahoo Kembali Ungguli Google

KOMPAS.com — Situs web Yahoo unggul 3 bulan berturut-turut sebagai situs web yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Mengalahkan pesaing utamanya, Google.

Menurut data yang dilansir oleh comScore Inc, Senin (21/10/2013), pada bulan September pengunjung situs Yahoo mencapai 197.800.000, sedangkan Google berada di urutan kedua dengan 191.400.000 kunjungan.

Juli 2013 menjadi awal keberhasilan Yahoo! menggeser Google. Padahal, lima tahun terakhir Google selalu mendominasi hilir mudik penggunaan internet di AS. Ternyata, hingga paruh September, Google belum bisa merebut kembali takhtanya.

Namun, comScore mengakui Yahoo masih tertinggal jauh di belakang Google dalam menghasilkan uang dari kunjungan pengguna ke situs web mereka.

Data yang dikeluarkan oleh eMarketer menunjukkan, Google mendapat 38,83 miliar dollar dari pendapatan iklan digital seluruh dunia. Sementara itu, Yahoo hanya berada di peringkat ke-3 dengan pendapatan sekitar 3,63 miliar dollar. Peringkat ke-2 diduduki oleh Facebook dengan perkiraan pendapatan 5,89 miliar dollar.

Terlepas dari itu, gebrakan dari Marissa Mayer di masa kepemimpinannya ternyata membuahkan hasil yang manis bagi Yahoo, meski pada awalnya banyak pihak yang meragukan pilihan-pilihan Mayer.


Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2013/10/25/1237587/Yahoo.Kembali.Ungguli.Google

Analsis :
Dari artikel diatas saya sebagai user tidak setuju, karena saya ketahui google mempunyai beberapa keleihan diantaranya :
1. Kecepatan dan kemudahan dalam mencari.
2. lebih canggih dengan fitur yang dimilikinya.
3. Tampilan yang sederhana.
4. Google merupakan satu-satunya mesin pencari yang memilki cach. Dengan adanya cache ini, si pencari dapat menghemat waktu pencarian, karena hasil pencarian yang akan ditampilkan.
5. Dapat mencari segala informasi seperti gambar, berita artikel, hiburan dll.

Sedangkan yang saya ketahui Yahoo memiliki sisi kekurangan, diantaranya :
1. loadingnya membutuhkan waktu yang lama
2. Tampilannya kurang menarik, terkadang membingungkan bagi user yang masih awam

Intel Xeon E5-2600 v2 Siap Dukung Server

JAKARTA, KOMPAS.com - Intel meluncurkan keluarga baru prosesor Xeon E5-2600 v2 (kode nama Ivy Bridge-EP) untuk perangkat komputer server dual-socket dan workstation, yang diklaim mengalami peningkatan kinerja dan membuat lebih efisien dari generasi sebelumya.

Prosesor terbaru yang dibangun dengan proses fabrikasi 22 nano meter (nm) ini, menawarkan efisiensi daya hingga 45 persen dan peningkatan kinerja sekitar 50 persen lebih, dibandingkan dengan prosesor Xeon E5-2600 v1.

Senior Vice President and General Manager of the Datacenter and Connected Systems Group Intel, Diane Bryant mengatakan, keluarga prosesor ini cocok untuk menangani berbagai beban kerja komputer server, storage, dan jaringan.

Jumlah inti (core) maksimal pada prosesor Xeon E5-2600 v2 ditingkatkan dari 8 core menjadi 12 core, dengan cache Level 3 dari 20MB menjadi 30MB. Sementara untuk operasi maksimum meningkat sebesar 200MHz, membawa frekuensi dasar 3,5GHz dan frekuensi turbo 4GHz.

Dua fitur keamanan baru diperkenalkan dalam keluarga prosesor, yakni OS Guard, yang mengisolasi sistem operasi dari serangan program jahat.

Sejatinya, keluarga prosesor Xeon E5-2600 v2 dibangun dalam tiga varian untuk menargetkan beban kerja yang berbeda-beda.

Pertama, adalah prosesor dengan 4-6 core dengan 15MB L3 cache dan 40 sampai 80W Thermal Design Power (TDP). Kedua, prosesor 6-10 core dengan 25MB L3 cache dan 70 sampai 130 W TDP.

Dan yang terakhir, prosesor 12 core dengan 30MB L3 cache dan 115 sampai 130W TDP. Varian 12 core ini mencakup tambahan memori pengontrol untuk meningkatkan bandwidth memori.

Keluarga prosesor Intel Xeon E5-2600 v2 akan dipakai pada IBM NextScale System, IBM X3650 M4HD, dan lainnya. Selain itu, Dell juga telah memilih prosesor terbaru ini untuk solusi penyimpanan data.

Xeon E5-2600 sudah mulai dikirimkan dan berada  di kisaran harga 202 sampai 2.614 dollar AS jika membeli dalam jumlah 1.000. Sementara itu, tiga single-socket prosesor Intel Xeon E5-1600 akan ditawarkan untuk workstation dengan kisaran harga 294 sampai 1.080 dollar AS.

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2013/09/16/1958500/Intel.Xeon.E5-2600.v2.Siap.Dukung.Server

Analisis :

 Dari artikel diatas adalah agar intel mempertahankan socket untuk procie server selama 2 generasi. Berarti ini adlh salah satu model terakhir procie server intel dengan ivy bridge. Katanya tahun depan saat Broadwell keluar, server memakai haswell.

Pemanfaatan Bahasa Indonesia pada Taran Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah

  • Wacana Ilmiah
Wacana Ilmiah adalah tulisan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan, yang dikomunikasikan lewat bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis dan sintesis-analitis.
Dalam tataran ilmiah, bahasa Indonesia sangat wajib diperlukan terutama dalam penulisan karya ilmiah, sehingga bahasa yang baik dan benar sangat diperlukan agar pemahaman bahasa dalam satu paragraph ke paragraph lainnya dapat dimengerti.
Bahasa indonesia yang baik seharusnya sudah di tanamkan sejak dini, agar anak-anak dapat berbahasa dengan baik dan sopan. Sekarang ini kebanyakan bahasa telah mulai dipersalahgunakan oleh banyak orang, yang menggunakan bahasa tersebut tidak pada tempatnya sehingga menimbulkan kerancuan dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, sebaiknya sejak dini kita harus membiasakan diri menggunakan bahasa yang baik dan benar sehingga pemanfaatan bahasa dapat di rasakan dengan baik oleh semua pihak.
Contoh :

 AstroGrav, Simulasi Tata Surya dalam Aplikasi

CHIP.co.id - AstroGrav merupakan progam edukasi untuk mempelajari susunan dan kejadian-kejadian yang sering ditemukan di dalam tata surya. Melalui program ini, Anda bisa mensimulasikan sistem astronomi yang ada di tata surya.
Tampilannya memang seperti program keluaran tahun 2000-an. Namun, opsi yang ditawarkan cukup banyak. Anda bisa mempelajari konsep dasar astronomi, seperti energi dan momentum. Selain itu, Anda juga bisa lebih mengenal sistem gravitasi, hukum Kepler, hingga pergerakan setiap planet yang ada di tata surya.
Semuanya bisa disimulasikan dalam mode 3D sehingga gambaran aslinya bisa Anda dapatkan. Dengan program ini, Anda juga bisa mendapatkan informasi detail dari setiap objek yang ada di alam semesta, seperti luas planet, dimensi, hingga massanya. Untuk mempelajari program ini, Anda bisa melihat tutorialnya terlebih dahulu.

  • Wacana Semi Ilmiah
Wacana semi-ilmiah adalah tulisan yang berisi informasi faktual, yang diungkapkan dengan bahasa semiformal, tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering “dibumbui” dengan opini pengarang yang kadang-kadang subjektif. Jenis-Jenis Wacana Semi Ilmiah : Artikel, Editorial, Opini, Feuture, Reportase.

Contoh :

Puisi dan Korupsi

Putu Setia
Dalam penalaran dualistik biner, di dunia ini hanya ada (orang) yang korupsi dan tidak korupsi. Pada kenyataannya, ada banyak yang tercecer di antara korupsi dan tidak korupsi, −bahkan terpanggil untuk memberantas korupsi. Si penegak hukum yang tidak korupsi tapi kemaruk menerima hasil korupsi, misalnya, bisa aktif mengatur dakwaan agar terperoleh vonis hukuman ringan atau penataan fasilitas penjara agar si koruptor nyaman.

Atau tak korupsi tapi menerima recehan dari si yang korupsi supaya diam tutup mulut. Celakanya, reka suap tutup mulut itu jadi kolusi resmi, yang membuat besaran dikorupsi Rp 1 miliar hanya dinikmati utuh Rp 600 juta, sekaligus setelah mengantongi Rp 600 juta si bersangkutan menerima Rp 25 juta-Rp 50 juta dari teman kerja yang berkorupsi pada pos lain.

Pemerataan hasil korupsi, yang nominalnya tergantung posisi dan jabatan, membuat si terbukti korupsi dan divonis korupsi hanya bisa disita sebagian kekayaannya −di bawah nominal kerugian negara.

Ruwet bin rumit. Bahkan pihak-pihak yang ikut menikmati hasil korupsi hanya mungkin dijadikan saksi, tak mungkin dipaksa mengembalikan keuntungan berkolusi. Sulit merampas receh hasil tutup mulut saat ada korupsi karena UU Pencucian

Uang sebagai alat pembuktian terbalik yang menelusuri asal-usul receh yang diperoleh jika diterapkan akan terlalu mahal. Dianggap saksi memberatkan yang nyaris whistle blower −meski aib menikmati hasil korupsi laku pasifnya itu diserahkan kepada Tuhan. Mungkin tanpa religiositas seperti China, baru bisa tegas menghukum mati.

Kondisi itu yang menyebabkan banyak pihak muak dan cenderung ingin ekstrem menghukum koruptor.
Tapi radikalisme itu ditanggapi si koruptor sebagai laku pihak yang tak punya akses sehingga tak kuasa menikmati hasil korupsi. Bahkan koruptor yang belum terbukti korupsi berani menuding media yang menyorotinya sebagai pencemaran nama baik.

Mungkin karena korupsi berdekatan, −bahkan identik, −dengan kekuasaan. Lantas dengan apa melawan kekuasaan yang koruptif?

Menulis korupsi

Awal 2013 ada kawan yang gelisah dan ingin membentuk komunitas untuk menormalkan keadaan lewat sugesti perlawanan. Semacam pengondisian untuk menolak laku aktif korupsi atau hanya menikmati hasil korupsi. Komunitas dibentuk tanpa aturan keanggotaan ketat dan upaya dimanifestasikan dalam ekspresi puisi.

Sederhananya, anggota komunitas diajak menulis, memublikasikan secara tertulis, dan membaca puisi bertema antikorupsi. Tendensi ini murni tak berideologi dan tak beragama.
Hanya tema antikorupsi yang dikembangkan berdasarkan pengetahuan serta pengalaman subyektif masing-masing.

Sebagai organisasi independen, dana yang terbatas diatasi dengan mengajak setiap penyair pengirim puisi, untuk ikut membiayai penerbitan jika puisinya memenuhi syarat dan lolos seleksi.

Untuk publikasi pertama− ada 85 penyair dan 332 puisi dalam buku 476 halaman,− ditentukan sawerannya Rp 250.000 per orang—meski banyak yang mengirim lebih. Besaran itu jadi hak atas buku tercetak, yang saat itu biaya cetaknya cuma Rp 25.000 per buku.

Karena itu, buku Puisi Menolak Korupsi tidak mungkin ditemukan di toko buku mana pun. Melulu hanya berada di khazanah si penyair yang berkontribusi− bisa dinegosiasi untuk memilikinya dengan rentangan harga Rp 0 sampai di atas Rp 25.000. Ini sebuah kesepahaman yang unik, sebuah manifestasi untuk mengekspresikan perjuangan yang konsekuen melawan korupsi.

Pada praktiknya, pembagian produksi hasil investasi saham penerbitan dilakukan pada titik tertentu, di mana ada pihak yang mau jadi tempat launching, lalu diikuti kegiatan baca puisi—meski ada yang tidak bisa datang.

Momen publikasi lisan ini diikuti banyak kontributor buku atau seniman seni pertunjukan setempat yang ikut mengekspresikan penolakan pada korupsi. Momen itu dilengkapi diskusi yang menggelora dan tak seorang pun yang dibayar.

Kegiatan

Ada kesepakatan tidak terucapkan untuk melawan korupsi, dengan ekspresi penolakan pada korupsi secara tekstual. Sampai awal Ramadhan, launching− yang diidentifikasi sebagai roadshow, telah dilakukan di Blitar (18-19/6), Tegal (1-2/6), dan Banjarbaru, Kalsel (28/6). Selain di Banjarbaru, di mana ada sumbangan dana Rp 2.725.000 lebih untuk tiket kapal Surabaya-Banjarmasin pergi-pulang, semua transportasi ditanggung sendiri dengan ditunjang akomodasi maesenas lokal.

Ada benang merah kesepakatan: korupsi harus dilawan meski hanya lirih lewat puisi, yang kegarangannya hanya hadir di panggung pertunjukan. Bahkan, ajakan emansipatorik ditolak karena kodrat penyair itu berpuisi, mencatat, serta mengingatkan, tidak pragmatik demo di jalanan, tidak juga dengan berpidato di DPR. Maka, roadshow berikut berlangsung di Agustus dan seterusnya. Bahkan, kini sudah ada 174 penyair yang berpartisipasi membiayai penerbitan buku Puisi Menolak Korupsi jilid II.

Orang sudah muak. Ada yang mengekspresikannya secara garang, ada yang lirih lewat puisi.
Putu Setia Pengarang

  • Wacana Non Ilmiah 
Karangan nonilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

Ciri-ciri karangan nonilmiah:

·         ditulis berdasarkan fakta pribadi
·         fakta yang disimpulkan subyektif
·         gaya bahasa konotatif dan popular
·         tidak memuat hipotesis
·         penyajian dibarengi dengan sejarah
·         bersifat imajinatif
·         situasi didramatisir
·         bersifat persuasive

macam-macam  karya Tulis Non Ilmiah :
Dongeng, cerpen, novel, drama, dan roman

Contoh :


Love Season: Regret
 


Suatu pertemuan yang tak terduga
Pada akhirnya akan menimbulkan suatu perpisahan
Yang tak terduga pula.

Aku berlari menyusuri etalase sebuah café. Sebuah café yang menjadi tempat favoritku di segala suasana. Hampir setiap hari aku mampir kesini. Ah, di saat seperti ini memikirkan hal tersebut kurasa tak ada gunanya. 5 menit yang lalu sahabatku, Riri, meneleponku. Nada bicaranya tak santai. Kurasa hal yang akan disampaikannya sangat penting. Buru-buru aku membereskan barang-barangku dan beranjak dari café sampai akhirnya…

Bbrakk…

Aku menghantam sesuatu dan walhasil semua barang-barang bawaanku dari mulai buku-buku novel dan pelajaran sampai ponselku pun terjatuh. Aku segera meraih semuanya hingga kudengar sebuah suara menyapaku.
“Maafkan saya nona. Biarkan saya membantu membereskan semuanya.” Ucap seseorang di hadapanku yang bahkan aku tak tahu siapa dan saat ini ia sedang membantuku membereskan barang-barangku.

Setelah semuanya beres aku mencoba menengadahkan kepalaku dan kembali berdiri untuk melihat siapa yang tadi telah menghalangi jalanku dan bersiap memakinya. Namun, setelah aku berhasil menatapnya aku pun mengurungkan niatku. Aku benar-benar terkejut melihat seseorang yang sekarang sedang berdiri di hadapanku ini. Kurasa ia pun sama terkejutnya denganku.

Kuteliti lagi setiap lekukan wajahnya, bentuk hidungnya, lalu ke matanya dan kembali turun ke bawah untuk melihat bibirnya. Sekarang aku benar-benar yakin jika aku tidak salah orang. Akhirnya aku pun buka suara.
“Tommy?” ucapku menunjukkan keterkejutanku.
“Lyan? ini bener kamu kan? temen smp yang sering kujailin itu?” Tanyanya agak ragu-ragu namun tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
“Kenapa kamu inget aku karena hal itu? nggak ada hal lain apa yang bisa tersimpan di memorimu selain ngejailin orang? sampai-sampai untuk mengingatku pun kamu andalkan keahlianmu satu-satunya itu.” Rutukku sambil mengerucutkan bibir.

“Hahahaha, miss bawel nih, baru ketemu bukannya kasih senyum malah ngomel. Pake ngatai-ngatain segala lagi. Sorry ya, gini-gini nilai eksakku tinggi. Yaaa, meskipun nggak bisa nyaingin kamu sih. Tapi senggaknya kan aku nggak bego.” Ucapnya menimpali rutukkanku.

“kayaknya kamu buru-buru nih, mau kuanter nggak? mumpung aku bawa mobil.” lanjutnya menawariku tumpangan. Sejenak aku berpikir. Mungkin ada baiknya kalau aku ikut dengannya. Selain hemat ongkos setidaknya aku juga bisa menghemat waktu dibandingkan jika naik angkutan umum.
“hmm, boleh deh, sekalian sebagai penebusan dosa-dosamu selama ini ke aku.” Ia terkekeh mendengar jawabanku. Seketika ia menggandeng tanganku menuju mobilnya. Jelas ini membuatku kembali terkejut untuk kedua kalinya.

“Ngapain sih pake gandeng-gandeng? tinggal tunjukkin di mana mobilmu aja kan nggak susah. Aku bisa jalan sendiri.” Ucapku sewot. Tapi bukannya melepaskan genggamannya, ia malah semakin mengeratkan tangannya. Kutatap wajahnya. Dia tak merespon ucapanku. Ia hanya tersenyum dan terus berjalan. Terpaksa aku menurutinya.

“Inget nggak waktu kamu nyasar sendirian setelah kita nonton film bareng temen-temen smp?” akhirnya ia angkat bicara. Tapi bukan jawaban yang kuharapkan. “Inget.” Jawabku kesal karena dia tak juga melepas gandengannya.
“Aku nggak mau itu terulang di saat-saat seperti ini.” Jawabnya agak gantung. Aku jadi semakin tak mengerti dengan maksudnya. Apa saat ini dia sedang berpikir kalau aku akan menghilang lagi dan menangis seperti saat itu? apa dia masih menganggapku anak kecil yang harus selalu diperhatikan? apa dia masih berpikiran bahwa aku tak berubah dan tetap manja seperti saat kita berteman dulu?
Beribu pernyataan timbul dalam benakku dan lenyap seiring tak adanya jawaban. Kami berhenti di depan sebuah mobil Toyota Altis hitam. Ia mengeluarkan kunci mobilnya lalu sambil masih menggenggam tanganku ia membukakan pintu penumpang di samping kemudi. Aku terus memperhatikan gerak-geriknya.

“silahkan masuk tuan putri.” Ucapnya mempersilahkanku masuk sambil tersenyum. Aku tak menggubris senyumannya dan masuk ke mobil dengan leluasa. “Dasar!” ucapnya lagi tapi masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Kulihat dia mengambil jalan memutar dan akhirnya duduk di kursi pengemudi.
“cepat, aku sudah terlambat.” Ucapku.

“memangnya kamu ini mau kemana?” tanyanya.
“mau ke rumah teman. Kenapa?” tanyaku sambil memandangnya angkuh. Tak kusangka ia malah tertawa keras. Aku bingung. Sebenarnya ada apa dengan anak ini? sikapnya berbeda dengan saat kita masih di bangku smp. Kata-kata yang muncul pertama kali saat melihatnya seperti ini adalah ‘dia aneh’.

“hey, ada apa denganmu? kenapa kamu tertawa?” aku menaikkan nada bicaraku. Aku benar-benar kesal sekarang. “hanya ke rumah teman apanya yang buru-buru?” jawabnya sambil berusaha menghentikan tawanya.
“dia butuh bantuanku.” Jawabku selembut mungkin. Tiba-tiba ia mencubit pipiku. “ah, iya iya. Aku akan segera membawamu kesana tuan putri.” Ucapnya sambil menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Aku memperhatikannya dengan tatapan aneh. Perubahan sikapnya ini… membuatku alergi.

Setelah 30 menit kami bersama tanpa sepatah kata pun akhirnya kami tiba di depan sebuah rumah. Belum sempat aku membuka pintu mobil Tommy sudah meraih tanganku dan menahanku untuk tidak keluar. Aku diam menatapnya tanpa berkata apapun walau sebenarnya aku sangat ingin menanyakan apa yang ia inginkan saat ini.

“pulangnya aku jemput ya.” Ucapnya seketika membuat jantungku mencelos. Aku tak tahu harus menjawab apa. “ng..ng.. tapi..” aku sangat sulit untuk menimbang perkataannya. Di satu sisi ini menguntungkan untukku. Tapi di satu sisi ini membuatku jadi segan padanya.
“oke, aku jemput kamu jam 5 sore. Cukup kan buat ngobrol sama temenmu?” tegasnya karena sedari tadi aku hanya terbata-bata. Aku hanya menganggukkan kepalaku tanda setuju lalu segera keluar dari mobilnya dan meringsek masuk ke rumah Riri. Berlama-lama dengannya bisa membuatku gila.



“riii, aku masuk ya.” Panggilku selembut mungkin sambil mengetuk pintu kamar Riri. “iyaaa.” Teriaknya merespon panggilanku. Aku meraih gagang pintu dan membukanya perlahan. Kulihat Riri sedang duduk dengan serius di depan meja komputernya ditemani dengan macam-macam camilan.
“ada apa? apa ada sesuatu yang mengganggumu sampai kamu menyuruhku buru-buru kesini?” tanyaku sembari mendekatinya.
Tiba-tiba ia berbalik dan menatapku dengan tatapan horror. Sepertinya ada yang tidak beres. Apa dia marah padaku?

“Ly, kamu jahat. Kamu sahabat paling jahat sedunia.” Ucapnya dengan air muka yang masih sama, membuatku semakin tak mengerti. “maksudmu apa? aku kenapa?” tanyaku dengan tampang bodoh karena kebingungan. “3 bulan dari sekarang kamu harus membereskan barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah.” Jawabnya tegas. Tapi aku masih tak mengerti.
Kenapa tiba-tiba ia mengusirku? bagaimana dengan orang tuaku? ada apa sih dengannya? aku mematung di hadapannya.

“haduuuuh, kamu ini gimana sih? kamu nggak inget ini hari apa?” tanyanya sambil beranjak dari kursi dan menghampiriku. “ini hari sabtu kan?” jawabku ragu.
“bukan itu nenek. Dasar pikun. Hari ini pengumuman siapa 25 orang yang berhasil mendapat beasiswa ke Kyunghee university. Dan kamu adalah salah satu yang beruntung dari 25 orang itu. Kamu diurutan 13. sudah mengerti nek?” terangnya panjang lebar.
Aku menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.

Rasanya otakku mati dan tubuhku kaku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Perlahan aku raih pundak sahabatku itu dengan kedua tanganku. “kamu nggak salah Ri?” hanya itu yang dapat kuucapkan.
Riri meraih kedua tanganku dan berusaha menenangkanku. “kali ini aku nggak akan bercanda Ly. Aku serius.” Air mata pun lolos dengan mudahnya dari kedua mata sipitku. Aku benar-benar merasa luar biasa saat ini. Sebulan yang lalu baru saja aku menjalani tes untuk mendapatkan beasiswa di salah satu universitas terbaik di korea, dan sekarang Riri mengatakan aku harus bersiap pergi kesana 3 bulan dari sekarang. Ini sebuah keajaiban.

“ih, dasar cengeng. Kamu ini nggak jelas. Di kasih kabar gembira malah nangis.” Ucapnya membantuku mengusap air mata yang membanjiri pipiku. “3 bulan dari sekarang? oh, ya Tuhan, terimakasih.” Ucapku sesenggukan diiringi tawa dari Riri.
“kuliah yang bener lho. Awas kalau kamu malah pergi ke Kona Beans buat ketemu Super Junior.” Candanya. “nggak kok. Paling Cuma nongkrong sebentar. Aku kan suka berkunjung ke café. Ya syukur-syukur sih kalau ketemu Super Junior. Paling nggak Kyuhyun aja deh.” Jawabku sambil cengengesan dan sukses mendapat jitakan dari sahabatku ini.
“aku bakal bantu kamu siapkan semua yang kamu butuhkan mulai hari ini. Jangan segan-segan oke.” Ucapnya sambil mengacungkan jempolnya ke arahku dan kujawab dengan sebuah anggukan. Semoga orang tuaku akan bangga dengan kerja kerasku.



“gimana ngegosipnya? seru?” Tanya Tommy kepadaku saat aku memasuki mobilnya. “aku bukan tipe cewek yang suka gossip. Jangan samakan aku dengan mantanmu.” Timpalku sewot. “wiiih, marah nih ceritanya. Maaf deh, kupikir semua cewek begitu. Aku lupa kalau kamu beda.” Ucapnya sambil melajukan mobilnya.

Aku kembali dibuat bertanya-tanya olehnya. Memangnya sejak kapan ia menyadari perbedaanku dengan mantannya? kalau aku berbeda kenapa ia tidak lebih memilihku? apa menurutnya aku ini aneh? tapi dia pernah bilang kalau pribadiku menyenangkan. Ah, sudahlah. Dengan berpikiran seperti ini malah membuatku semakin pusing. “kumohon Tom, jangan bangkitkan perasaan yang sudah susah payah ku kubur dan lupakan sejak 2 tahun silam. Jangan biarkan aku mengharapkanmu lagi dan akhirnya kau tinggalkan seperti dulu.” Batinku.

“malam ini nggak ada acara kan? temenin aku jalan-jalan yuk.” Ucapnya membuyarkan lamunan ku. “hmm? jalan-jalan? terserah kamu aja deh.” Jawabku tanpa memerhatikannya. Aku masih sibuk dengan diriku sendiri yang mulai gelisah karenanya. “hey, kamu nggak apa-apa? apa kamu sakit? kuantar pulang aja ya.” Dari nada suaranya bisa ditebak jika ia sedang panik. “nggak kok, aku nggak apa-apa. Cuma lagi mikir aja.” Jawabku meyakinkannya.
“mikirin apa? ada masalah? cerita aja sama aku siapa tahu aku bisa bantu.” Ucapnya kembali tenang. Selalu seperti ini. Sejak dulu kami berteman dekat kami selalu bertukar pikiran.

Jika aku ada masalah aku selalu menceritakan masalahku padanya, begitu pula sebaliknya. Sampai akhirnya ia melupakanku demi seorang gadis yang sejak tadi kusebut sebagai mantannya.
Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan apa yang menjadi beban pikiranku saat ini. Mulai dari kabar diterimanya aku sebagai penerima beasiswa di Kyunghee university sampai hal-hal yang kubingungkan perihal persiapan keberangkatanku kesana.

“ah, masih 3 bulan lagi kan. Nggak usah terlalu dipikirkan. Masih lama kok.” Jawabnya merespon setiap kalimat demi kalimat yang sudah kulontarkan. Ucapannya jelas membuatku kesal. 3 bulan apanya yang singkat? Aku belum tahu rencana selanjutnya ketika aku sampai disana. Apakah aku harus menyewa apartemen atau membeli rumah. Tidak mungkin kan jika sesampainya disana aku langsung menggelandang. Belum lagi barang-barang yang akan kubawa kesana. Aku bingung harus membawa apa. Hal-hal ini jelas akan membuat 3 bulan itu menjadi waktu yang singkat. Aku heran kenapa orang ini tidak pernah serius dan selalu saja membuatku kesal.



Tak terasa ini sudah hari terakhir semenjak 3 bulan yang lalu Riri memberiku kabar gembira itu. Besok, tepat jam 10 pagi pesawat yang akan membawaku ke Negara impianku itu lepas landas. 3 bulan yang sangat berarti untukku karena sejak insiden tabrakan di café siang itu aku bisa kembali akrab dengan Tommy dan tentunya akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan waktu dengannya.

Tapi ada yang aneh padanya sejak dua hari yang lalu. Dia menghilang seolah di telan bumi dan sangat sulit untuk di hubungi. Huh, semoga tak terjadi apa-apa dengannya. Ah, kenapa aku jadi memikirkannya sampai seperti ini? “tidak Lyan, kau tidak boleh mengharapkannya lagi. Kau harus melupakannya.” Batinku.
Tapi, bagaimanapun juga aku harus mengabarinya mengenai keberangkatanku besok. Hmm, aku ingin mengajaknya jalan seharian karena ini hari terakhirku di Indonesia dan aku tak tahu kapan akan bertemu dengannya lagi. Aku takut merindukannya. Kupandangi layar ponselku dengan ragu. “semoga kali ini dia menjawab telponku.” Batinku.

Segera kutekan speed dial nomor satu di ponselku dan memasangnya di telinga. Aku mendengar nada sambung dengan gelisah takut kalau-kalau ia mengabaikan telponku dan tak menghubungiku seperti kemarin. “halo, ada apa Ly?” akhirnya ia mengangkat telponku. “kamu ada waktu nggak? hari ini kita jalan yuk.” Ucapku bersemangat. Namun tak seperti harapanku. Lagi-lagi dia sibuk tanpa alasan. Segera kuhentikan telpon tersebut dengan menekan tombol reject. “huh, kamu itu ingat nggak sih? ini kan hari terakhirku dan aku nggak tahu kapan bisa ketemu kamu lagi.” Sekarang aku sudah seperti orang gila yang bicara dengan layar ponsel.

Aku ingin marah padanya saat ini atas sikapnya padaku sejak dua hari lalu. Tapi itu tak mungkin karena aku tahu bahwa aku bukan siapa-siapanya. Pacarnya? tentu saja bukan. Aku hanya teman biasa baginya. Hal ini membuatku tidak berhak memarahinya hanya karena hal sepele seperti ini. Lagian itu hidupnya. Aku tak boleh mengekangnya. Dan perasaanku ini hanya cinta sepihak. Tak mungkin ia akan membalasnya.



Aku duduk gelisah sambil menatap layar ponselku. Sesekali aku melihat ke arah jam yang melingkar manis di tangan kiriku. Sudah pukul 9. Satu jam lagi aku akan benar-benar angkat kaki dari sini. Dimana kamu Tommy? apa kamu nggak ingat kalau hari ini sudah tepat 3 bulan dan aku harus pergi ke Korea? kau anggap apa aku selama ini?
Aku menyeret koperku perlahan menuju pintu masuk Gate C.

Berulang kali aku menatap ke belakang lalu melihat ponselku. Tetap tak ada tanda-tanda kehadirannya. Selangkah lagi aku tepat di pintu Gate C dan bersiap menyerahkan tiketku untuk di periksa. Tapi aku masih diam mematung, ragu. “baiklah kalau begitu. Sekarang aku harus meninggalkan semuanya. Aku harus melupakannya, lagi, untuk yang kedua kalinya. Terimakasih atas perhatianmu selama ini. Selamat tinggal, Tommy.” Batinku.

Akupun melangkah memasuki antrian panjang di pintu masuk Gate C. aku menyerahkan tiketku dan benar-benar bersiap untuk pergi. Aku tak dapat membendung air mataku yang sedari tadi kutahan. Akhirnya aku pun menangis. Entahlah, apa aku bisa bertemu dengannya lagi atau tidak. Tapi salahnya kenapa hadir tiba-tiba. Andaikan sebelum tes itu aku sudah bertemu kembali dengannya, mungkin aku tak akan pergi. Ah, sudahlah…



TOMMY SIDE

Aku baru selesai mandi ketika sebuah telpon mengusikku. Kupandangi layar ponselku dengan seksama. Riri. Ya, dia sahabat Lyan. Aku baru mengenalnya 3 bulan terakhir ini. Aku jadi sering bertemu dengannya karena setiap menemani Lyan berbelanja untuk persiapannya ke Korea ia selalu ada. Eh, tunggu dulu, Korea? bagaimana bisa aku melupakan Lyan? segera kuangkat telpon tersebut. “Tom, kamu nggak ke bandara? pesawatnya Lyan jam 10 lho.” Terdengar nada histeris dari seberang telpon.
Ya Tuhan, bagaimana aku bisa lupa? aku segera mengganti pakaianku dan menyambar kunci mobil. Bagaimana mungkin aku mengabaikan orang yang selama ini kucintai? bagaimana ini? sudah jam 9. Aku takut terlambat. Aku tak tahu jika bukan sekarang kapan lagi aku akan mengutarakan perasaanku dan mengikat janji dengannya. Aku ragu apa aku masih bisa bertemu dengannya setelah ini. Aku melajukan mobilku dengan gelisah. Sesampainya di bandara aku memarkirkan mobilku dan segera berlari kearah barisan pintu keberangkatan.

Aku mencoba menghubungi ponselnya. Tidak ada jawaban. Bagaimana ini? aku benar-benar kacau sekarang. Aku mondar-mandir kesana kemari berharap bisa menemukan sosok Lyan di keramaian. Tapi hasilnya nihil. Rasa penyesalan pun perlahan timbul dalam benakku. Aku menyesal tidak memilihnya waktu itu. Aku menyesal telah mengabaikannya dan memilih gadis lain. Aku menyesal telah mengabaikan panggilannya sejak tiga hari yang lalu. Kenapa aku baru menyadari kalau ternyata aku mencintainya? aku benar-benar bodoh.
Di tengah kegelisahanku tiba-tiba ponselku berbunyi tanda pesan masuk.

From: Lyan
“aku pergi ya. Aku menunggumu sejak tadi tapi kamu nggak datang-datang. Aku berharap bisa mengucapkan salam perpisahan secara langsung dan memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Karena aku tak tahu apa aku dapat bertemu denganmu lagi atau tidak. Tapi sepertinya kamu nggak berminat. Ya sudahlah, jaga dirimu baik-baik oke. Jangan menjahili orang lagi. Sudah saatnya untuk berubah. Selamat tinggal teman baikku.”

15/06/12 09:45

Aku terpaku menatap layar ponselku. Tubuhku terasa kaku. Aku tak dapat berpikir lagi. Sekarang semuanya sudah terlambat. Aku tak tahu harus bagaimana. Air mata perlahan menetes ke pipiku. Untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa kehilangan. Selamat jalan Lyan, semoga kau sukses mewujudkan cita-citamu menjadi dokter bedah jantung. Saat ini aku tak dapat menghalangi jalanmu lagi.
Aku mencoba mengetikkan sesuatu sebagai balasan pesan yang dikirimkan Lyan padaku.

To: Lyan
“selamat jalan. Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu.”

15/06/12 09:55
Dengan ragu akhirnya kukirim pesan teks itu. Hanya ini yang dapat kukatakan padanya sebagai pengakuanku selama ini. Andai masih diberi kesempatan, aku sangat ingin memeluknya dan meminta maaf atas ke munafikanku selama ini…

Cerpen Karangan: Dona Rahmayuanita
Blog: donarahmakjm.blogspot.com
  
Sumber :
http://vanitayosi.blogspot.com/2011/10/wacana-pemanfaatan-bahasa-indonesia.html
 http://chip.co.id/review/software_os/8431/astrograv_simulasi_tata_surya_dalam_aplikasi
http://opinikompas.blogspot.com/2013/10/puisi-dan-korupsi.html#more

Kamis, 24 Oktober 2013

Bahasa Indonesia yang baik dan benar


Meskipun sudah sering didengar, ternyata belum semua orang memahami makna istilah “baik dan benar” dalam berbahasa. Tidak semua bahasa yang baik itu benar dan sebaliknya, tidak semua bahasa yang benar itu baik. Tentunya yang terbaik adalah bisa berbahasa dengan baik dan benar. Untuk dapat melakukannya, perlu dipahami dulu apa yang dimaksud dengan baik dan benar tersebut.

Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi. Sebagai alat komunikasi, bahasa harus dapat efektif menyampaikan maksud kepada lawan bicara. Karenanya, laras bahasa yang dipilih pun harus sesuai.

Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut.

  1. Ragam beku (frozen); digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
  2. Ragam resmi (formal); digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.
  3. Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
  4. Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
  5. Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.

Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk bahasa baku tertulis maupun bahasa baku lisan. Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut.

  1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.
  2. Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik bangetuang dan bukan duit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang.
  3. Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini.
  4. Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.
  5. Penggunaan kalimat secara efektif. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku sebenarnya mengharuskan komunikasi efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud aslinya.

Dari semua ciri bahasa baku tersebut, sebenarnya hanya nomor 2 (kata baku) dan nomor 4 (lafal baku) yang paling sulit dilakukan pada semua ragam. Tata bahasa normatif, ejaan resmi, dan kalimat efektif dapat diterapkan (dengan penyesuaian) mulai dari ragam akrab hingga ragam beku. Penggunaan kata baku dan lafal baku pada ragam konsultatif, santai, dan akrab malah akan menyebabkan bahasa menjadi tidak baik karena tidak sesuai dengan situasi.

Jika saya perhatikan, semakin tidak benar bahasa saya sewaktu menulis atau berbicara, berarti semakin akrab hubungan saya dengan lawan bicara saya. Maaf, Mas Amal, saya belum bisa memenuhi imbauan untuk menggunakan bahasa yang benar di seluruh kicauan saya. Tapi saya usahakan untuk menggunakan bahasa yang baik.

Dan coba bayangkan kalau saya melakukan surel-menyurel dengan ragam resmi di Kampung. Bisa-bisa saya di-ban oleh Mbah Jambul.

Contoh diatas sudah terlihat jika kita salah dalam berbahasa yang baik makan kata-katanya pun menjadi kurang baik atau menjadi aneh dan lucu meskipun dalam arti sama, contoh lainya adalah yang membuat heboh hiburan di Indonesia adalah tentang omongan Vicky yang menggunakan kata-kara istialah dalam berbicara sehari-hari yang membuat orang yg melihat dan mendengar tertawa.

Mungkin itu sedikit dari tips dan trik mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar.



A. Pengertian bahasa
Kamus Besar Bahasa Indonesia secara terminology mengartikan bahasa sebagai  sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengindentifikasikan diri.

Gorys Keraf (1994:1) memberikan pengertian bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa juga mencakup dua bidang, yaitu bunyi vokal dan arti atau makna. Bahasa sebagai bunyi vokal berarti sesuatu yang dihasilkan oleh alat ucap manusia berupa bunyi yang merupakan getaran yang merangsang alat pendengar. Sedangkan bahasa sebagai arti atau makna berarti isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan reaksi atau tanggapan orang lain.
Dari pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian bahasa mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Sistem lambing bunyi yang arbitrer
2. Alat komunikasi
3. Simbol bunyi yang memiliki arti serta makna
4. Digunakan oleh masyarakat untuk beriteraksi


B. Fungsi bahasa
Fungsi bahasa menurut Mahmudah dan Ramlan (2007:2-3) adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat Indonesia. Bahsa juga menunjukkan perbedaan antara satu penutur dengan penutur lainnya, tetapi masing-masing tetap mengikat kelompok penuturnya dalam satu kesatuan sehingga mampu menyesuaikan dengan adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat. Selain itu, fungsi bahasa juga melambangkan pikiran atau gagasan tertentu, dan juga melambangkan perasaan, kemauan bahkan dapat melambangkan tingkah laku seseorang.
Gorys Keraf (2001:3-8) menyatakan bahwa ada empat fungsi bahasa, yaitu:

1. Alat untuk menyatakan ekspresi diri
Bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita.
2. Alat komunikasi
Bahasa merupakan saluran perumusan maksud yang melahirkan perasaan dan memungkinkan adanya kerjasama antarindividu.
3. Alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial
Bahasa merupakan salah satu unsure kebudayaan yang memungkinkan manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman tersebut, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain.
4. Alat mengadakan kontrol sosial
Bahasa merupakan alat yang dipergunakan dalam usaha mempengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang lain. Bahasa juga mempunyai relasi dengan proses-proses sosialisasi suatu masyarakat.


C. Aplikasi dalam kehidupan sehari hari
Melalui Bahasa, manusia dapat berhubungan dan berinteraksi dengan alam sekitarnya, terutama sesama manusia sebagai makhluk sosial. Manusia dapat memikirkan, mengelola dan memberdayakan segala potensi untuk kepentingan kehidupan umat manusia menuju kesejahteraan adil dan makmur. Manusia dalam berkomunikasi tentu harus memperhatikan dan menerapkan berbagai etika sehingga terwujud masyarakat yang madani selamat dunia dan akhirat. Bahasa sebagai alat komunikasi berpotensi untuk dijadikan sebagai sarana untuk mencapai suatu keberhasilan dan kesuksesan hidup manusia, baik sebagai insan akademis maupun sebagai warga masyarakat. Penggunaan bahasa yang tepat menjadikan seseorang dalam memperlancar segala urusan. Melalui bahasa yang baik, maka lawan komunikasi dapat memberikan respon yang positif. Akhirnya, dapat dipahami apa maksud dan tujuannya.


Daftar Pustaka :
http://mudzakiriqbal.blogspot.com/2013/10/trik-dan-tips-mempelajari-bahasa.html

Minggu, 30 Juni 2013

BUDAYA ORGANISASI

1.      Pengetian dan Fungsi Budaya Organisasi
a.      Definisi Budaya
Kata budaya pertama kali muncul pada tahun 1871. Kata ini dikemukakan oleh Edward B. Taylor yang merupakan seorang antropologis. Menurut Taylor (1871) seperti yang dikutip oleh Brown (1998), budaya adalah “that complex whole which includes knowledge, beliefs, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society”. Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut : “sekumpulan pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, dan kapabilitas, serta kebiasaan yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota sebuah perkumpulan atau komunitas tertentu”.

Dalam ilmu sosiologi, budaya diterjemahkan sebagai simbol, mitos, dan ritual penting dalam memahanmi sebuah realitas sosial. Pendekatan yang digunakan oleh ilmu sosiologi lebih kepada sikap kelompok masyarakat atau komunitas tertentu dalam menghadapi dan menyikapi bergam fenomena yang terjadi disekitarnya,

Pendekatan selanjutnya dari konsep budaya ini diteruskan oeh banyak pakar organisasi. Sehingga akhirnya kata budaya menjadi bagian yang erat dengan beragam aspek pengembangan organisasi. Saat inilah kita mengenal istilah budaya organisasi. Budaya dalam organisasi secara sederhana didefinisikan sebagai nilai-nilai yang dianut serrta cara bertindak organisasi berikut para anggotanya terhadap hal-hal yang berhubungan denga pihak luar.[1]

b.      Fungsi Budaya Organisasi
·         Pengikat Organisasi (organization binder)
Budaya organisasi berfungsi sebagai pengikat seluruh komponen organisasi terutama pada saat organisasi menghadapi goncangan baik dari dalam ataupun luar akibat adanya perubahan. Organisasi yang mempunyai budaya yang kuat akan mampu bertahan dan keluar dari badai yang menghantam karena mampu memanfaatkan budaya sebagai penguat bagi organisasi untukmenghadapi beragam hambatan yang menghadang.

·         Integrator
Budaya organisasi merupakan alat untuk menyatukan bergam sifatsertqa bakan dan kemampuan beragam yang ada dalam organisasi.

·         Identitas Organisasi
Budaya organisasi merupakan salah satu dari identitas organisasi tersebut. Sebagai contoh adalah The Jakarta Consulting Group sendiri. Logo dari The Jakarta Consulting Group adalah orang memanah yang melambangkan kecepatan dan ketepatan (speed and accuracy). Ini berarti, The Jakarta Consulting Group memiliki identitas organisasi yang mengutamakan kecepatan dan ketepatan.

·         Energy untuk mencapai kinerja yang tiggi
Budaya organisasi juga berfungsi sebagai suntikan energy untuk mencapai kinerja yang tinggi. Salah satu kredo yang The Jakarta Consulting Group pegang adalah bekerja dalam tim. Hal ini kami percayai sebagai suntikan energy untuk menghasilkan hasil (output) yang cepat dan kualitasnya terjaga. Sbab kemampuan dan bakat tiap orang berbeda. Jika hal ini disatukan dan dipertemukan satu sama lain maka akan menghasilkan output  yang luar biasa.

·         Ciri kualitas (sign of quality)
Budaya organisasi merupkan representasi dari ciri kualitas yang berlaku dalam organisasi tersebut. Kita ambil contoh dengan budaya yang bekerja di  The Jakarta Consulting Group sendiri. Telah disebutkan diatas bahwa budaya organisasi yang bekerja di The Jakarta Consulting Group adalah kecepatan dan ketepatan. Dibawah payung budaya organiasi yang seperti ini, maka setiap kegiatan di The Jakarta Consulting Group dilakukan secara cepat dan tepat, dalam artian hasilnya cepat terlihat dan kualitasnya terjaga baik.

·         Motivator
Budaya organiasi juga merupakan pemberi semangat bagi para anggota organisasi. Budaya yang kuat akan menjadi motivator yang kuat bagi para anggota orgnaisasinya. Misalanya saja McDonals. Budaya yang dipegang oleh para anggota organisasi McDonals adlah mutu dan bersih. Hal inilah yang memotivasi para anggota organisasisnya untuk selalu mengedepankan mutu dan kebersihan restorannya. Tercermin dari penerapan sistem saji 60 detik dan penjagaan kebersihan restoran dengan membersihkan kaca setiap hari dan mengepel lantai dalam jangka waktu tertentu.

·         Pedoman gaya kepemimpinan
budaya organisasi yang telah mengakar kuat, dapat menjadi pedoman gaya kepemimpinan yang sesuai untuk kondisi organisasi yang bersangkutan. Acapkali sebuah perubahan baik itu yang disengaja ataupun tidak membawa sebuah pandangan baru tentang kepemimpinan. Pemimpin dikatakan berhasil apabila mampu membawa anggota organisasi keluar dari polemic krisis akibat perubahan yang terjadi.

·         Value enhancer
Salah satu fungsi organisasi adalah untuk meningkatkan nilai dari para stockholdernya. Ini berarti, peningkatan nilai baik untuk para anggota organisasi juga bagi para pelanggan, pemasok, dan pihak-pihak lain yang berhubungan denga organisasi tersebut. Budaya organisasi yang kuat dan meresap kuat dalam setiap benak anggota organisasi akan menjadi salah satu faktor yang mampu meningkatkan nilai bagi para anggota, pelanggan, pemasok, dan pihak lain yang berhubungan denga organisasi tersebut.[2]

2.      Tipologi Budaya Organisasi
Secara umum budaya organisasi terpilah menjadi dua kutub besar: budaya entrepreneur dan budaya administrative. Pemahaman dua klasifikasi dasar budaya organisasi ini akan menuntun kea rah pemahaman budaya organisasi secara lebih baik.

Perusahaan yang memiliki jenis budaya entrepreneur dalam setiap aktivitasnya selalu memfokuskan pada peluang-peluang baru. Hal ini tercermin dalam jiwa kewiraswastaan yang selalu menganggap bahwa dengan menemukan dan memanfaatkan peluang-peluang baru tersebut perusahaan akan selalu survive dan terdorong untuk selalu berusaha mencapai sasaran yang berbeda-beda dari satu period eke periode berikutnya. Karenanya kegiatan operasional yang terjadi dalam perusahaan sangat dinamis dan membutuhkan sumber daya manusia yang cepat dalam mengantisipasi perubahan-perubahan internal maupun eksternal. Perusahaan akan berusaha memenuhi sarana yang dibutuhkan untuk merealisasikan kegiatan dalam upaya meraih kesuksesan dari peluang baru itu.

Dibutuhkan kompabilitas struktur organisasi dengan budaya agar dapat memperoleh peluang-peluang baru dan mempertahankan peluang yang sudah ada.

Perusahaan yang memiliki budaya administratif bertolak belakang dari budaya entrepreneur, aktifitas yang dilakukan lebih memfokuskan pada peluang-peluang yang sudah ada. Budaya administratif ini memandang bahwa peluang yang diperoleh harus terus dipertahankan, karena investasi yang ditanamkan sangat besar. Konsekuensi logisnya perusahaan membutuhakan prosedur pengendalian yang cukup kerar untuk mempertahankan peluang yang sudah diperoleh ini. Dinamika budaya administratif tidak sedinamis budaya entrepreneur. Struktur organisasi juga dengan diseseuaikan aktivitas usaha perusahaan yang menganut budaya administratif ini.
Tipologi yang lain dikemukakan oleh Deal & Kennedy yang memilah budaya organisasi ke dalam empat kategori budaya berdasarkan dua faktor utama, yaitu :

·         Derajat resiko dalam kegiatan bisnis
·         Kecepatan perusahaaan atau manajemen dalam mendapatkan umpan balik atas keputusan atau strategi[3]



[1] A.B. Susanto, F.X. Sujanto, Himawan Wijanarko, Patricia Susanto, Suwahyudi Mertosono, Wagiono Ismangil, “Corporate Culture and Organization Culture”, Januari 2008, Hal. 3-4
[2] A.B. Susanto, F.X. Sujanto, Himawan Wijanarko, Patricia Susanto, Suwahyudi Mertosono, Wagiono Ismangil, “Corporate Culture and Organization Culture”, Januari 2008, Hal. 37-40.
[3] A.B. Susanto, F.X. Sujanto, Himawan Wijanarko, Patricia Susanto, Suwahyudi Mertosono, Wagiono Ismangil, “Corporate Culture and Organization Culture”, Januari 2008, Hal.42-43.